Tampilkan postingan dengan label Education Articles. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Education Articles. Tampilkan semua postingan

Kritik Terhadap Pemikiran Karl Marx Tentang Hubungan Internasional

Senin, 08 April 2013

| | | 1 komentar
Assalamuailaikum wr.wb. Tentunya pembaca sekalian pernah mendengar nama Karl Marx,  yang tidak lain adalah tokoh pencetus ideologi sosialis di dunia. Pada kesempatann ini saya akan memberikan beberapa kritikan dan pandangan saya tentang pemikiran Karl Marx tentang hubungan internasional, pemikiran yang Karl Marx yang akan saya kritisi terdapat dalam Jurnal "Karl Marx's Conception of International Relations" oleh Regina Buecker yang sudah saya resume. Saya mengigatkan kembali bahwa kiritikan yang saya berikan ini hanya sebatas pada  pemikiran Karl Marx tentang hubungan internasional tidak sampai ke tahap ideologis yang mendalam, karena tentunya membutuhkan analisis yang lebih mendalam.


                                                    
Konteks Sejarah

Marx lahir pada tahun 1818 di Trier, sebuah kota Prusia dekat perbatasan Perancis. Ia belajar hukum dan filsafat di Bonn dan Berlin. Menurut Richard P. Appelbaum, Marx menikmati reputasi suram, selama ia menjadi mahasiswa, Marx tidak pernah memiliki penghasilan tetap atau pekerjaan tetap dan karena itu ia tergantung pada dukungan dari kerabat dan teman-temannya, seperti Friedrich Engels, teman seumur hidup Marx dan patner kerjanya. Bahkan, karena pandangan radikal Marx dan penekanannya pada hak untuk kebebasan berbicara, Marx diusir dari Perancis, Belgia dan Jerman. Akhirnya, pada tahun 1849, ia pergi ke pengasingan, di London, di mana ia meninggal sebagai orang tanpa kewarganegaraan.

Konsep Marx Tentang Manusia

Konsep Marx tentang manusia, menurut Fromm, hanya dapat sepenuhnya dipahami dengan memahami konsepnya tentang keterasingan. Manusia terasing ketika ia mengalami dirinya dan lingkungan dengan cara pasif. Marx mengklaim bahwa "proses alienasi dinyatakan dalam pekerjaan dan dalam pembagian kerja" dan bahwa "kerja adalah keterkaitan aktif manusia dengan alam, penciptaan sebuah dunia baru, termasuk penciptaan manusia itu sendiri '. Karena kerja tidak lagi termasuk dalam sifat “workingman” tersebut, akhirnya buruh terasing. Akibatnya, manusia tidak dapat "berkembang dengan bebas". orang terasing dari masyarakat kapitalis terhubung dengan lingkungannya hanya oleh konsumsi. Marx menunjuk proletariat sebagai orang-orang yang paling terasing dan membutuhkan proses emansipatoris, dalam rangka untuk memperoleh kebebasan dari keterasingan tersebut.

Konsep Marx Tentang Negara

Dalam Manifesto Komunis, Marx menggambarkan evolusi negara, dimulai dengan sejarah awal, di mana masyarakat hampir sepenuhnya terstruktur dalam peringkat yang berbeda. Romawi Kuno, misalnya, dibagi menjadi bangsawan, ksatria dan budak. Dengan kebutuhan tenaga kerja, karena pembangunan pertanian, dan pembangunan negara, sehingga menghasilkan kelas budak, menjadi perlu. Ini menandai metamorfosis dari masyarakat kesukuan, yang tidak membutuhkan sebuah negara untuk memastikan keberadaannya, ke sistem negara kuno. Ini memberi jalan kepada masyarakat feodal, yang merupakan struktur yang ditentukan oleh hubungan subjectkinship. Dengan ekspansi perdagangan, borjuasi dikembangkan dan menyisihkan keluar semua kelas yang tersisa dari Abad Pertengahan. Marx menulis bahwa struktur zaman borjuasi disederhanakan. Hanya dua kelas antagonis yang saling berhadapan yaitu borjuis dan proletar.

Menurut Marx, kelas penguasa menggunakan negara untuk menempatkan kepentingan sendiri dalam praktek, untuk memperkuat posisi dalam sistem dan mengeksploitasi kelas pekerja. Marx mengkritik Bruno Bauer, seorang anggota terkemuka dari Austria Hegelian Muda, karena telah dikacaukan emansipasi politik dengan emansipasi manusia. Bagi Marx, emansipasi politik adalah sangat penting, tetapi tidak identik dengan emansipasi manusia, sebagai'' negara mungkin membebaskan diri dari beberapa kendala, tanpa manusia itu sendiri yang benar-benar terbebas dari itu ".emansipasi manusia hanya dapat diwujudkan oleh mengubah masyarakat borjuis: penghapusan milik pribadi, suatu entitas yang mengasingkan manusia.

Marx dan Engels menulis dalam Kritik Terhadap Program Gotha bahwa kapitalisme dapat diubah oleh revolusi komunisme, dan negara, dalam periode perubahan, akan dipimpin oleh "kediktatoran proletariat". Menurut Marx, negara buruh akan memberikan perawatan kesehatan gratis, dan lembaga pendidikan yang akan bebas dari gereja dan campur tangan Negara. Tugas kediktatoran proletariat adalah menasionalisasi alat-alat produksi dan membentuk demokrasi sejati. Menurut Marx, "hak pilih universal, pemilihan langsung, kampanye multipartai, dan lembaga parlemen" hanya akan menciptakan "ketidakbebasan". Demokrasi sejati adalah untuk mayoritas, yang mewakili "sebuah komunitas dimana perkembangan setiap individu memberikan dasar untuk pengembangan bebas dari semua."

Dengan nasionalisasi alat-alat produksi, semua perbedaan kelas terhapuskan dan eksistensi suatu negara tidak perlu. Suksesi dari hal ini adalah masyarakat komunis. Dia percaya bahwa masa depan akan dibentuk oleh "dialektika struktur dan tindakan", dengan demikian, teori tidak bisa meramalkan hasil dari proses ini.

Konsep Marx Tentang Hubungan Internasional

Menurut Marx konflik internasional bukan karena struktur anarkis melainkan karena pertentangan antar kelas. Dalam masyarakat kapitalis, kaum borjuis, yang pada dasarnya secara nasional terorganisir dan mengontrol sistem pemerintahan yang berbeda, dan kaum proletar internasional yang terus berkembang, berhadapan dalam permusuhan. Marx menggambarkan proletariat dan borjuis sebagai kelas modern. karena kaum tani tidak memiliki kesadaran-kelas dan hubungan di antara mereka sendiri, Marx tidak menganggapnya sebagai kelas modern tapi sebagai kelas tradisional. Marx menandakan kelas yang modern sebagai kelas akhir, karena ia memandang kapitalisme sebagai tahap terakhir sebelum merugikan masyarakat komunis.

Marx juga berpendapat bahwa kolonialisme ikut berperan dalam membangun kapitalisme di negara nonkapitalis, dengan menyebabkan persebaran pembangunan industry diseluruh dunia, sebagai syarat terbentuknya masyarakat sosialis. Menurut Marx perkembangan kepemilikan pribadi menimbulkan kapitalisme, yang anantinya akan berubah menjadi sosialis, dalam hal ini Marx mengkritik kolonialisme tetapi juga membenarkannya.

Marx percaya bahwa perbedaan antara masyarakat akan dikurangi melalui kapitalisme. Selain itu, Marx percaya bahwa infrastruktur (basis ekonomi masyarakat) dan pembagian kerja akan mempengaruhi suprastruktur, perilaku kelas dan negara, tanpa menggugah kesadaran nasional. Marx asumsi bahwa nasionalisme tidak bisa berkembang di sebagian besar organisasi kaum proletar. Dalam pandangan Marx nasionalisme bojuis adalah musuh bagi mayoritas sebuah bangsa.

Menurut Marx realisasi komunisme tergantung pada bagaimana kapitalisme berkembang. Kapitalisme telah menciptakan keinginan dapat dipenuhi dengan cara sendiri dan akibatnya akan menyebabkan kerusakan sendiri. Marx membedakan dua jenis utama dari revolusi: revolusi demokratik borjuis dan revolusi proletar atau komunis. Dia menyimpulkan dari studi revolusi Inggris, Perancis, dan Amerika adalah revolusi borjuis, yang kekuatan pendorongnya adalah kelas menengah, yang termotivasi oleh keinginan untuk ekspansi kapitalistik Marx menyebut ini sebagai revolusi politik karena hanya menghilangkan sistem politik lama, sedangkan revolusi sosial tidak hanya menghilangkan sistem politik lama melainkan juga memberdayakan kaum proletar.

Revolusi, bagi Marx, memiliki karakter praksis. Teorinya tentang revolusi dan realisasinya melalui praksis membutuhkan elemen (objektif) pasif. Unsur objektif adalah bahan dasar dan pengaruhnya adalah kebutuhan manusia. Kebutuhan manusia, bagaimanapun, adalah bukan penyebab revolusi, tetapi sebagai unsur yang memungkinkan revolusi itu terjadi.

Marx juga memiliki pandangan yang berbeada tentang perdamaian, menurut Marx  perdamaian universal hanya bisa diwujudkan bila negara menghilang dalam struktur internasional. Ketika sebagian besar masyarakat dunia berpartisipasi dalam solidaritas global dan aksi bersama, sebuah masyarakat sosialis dunia dapat terwujud. Dalam sebuah masyarakat komunis tidak melakukan perang agresif, karena mereka tahu perang hanya akan menghabiskan modal.

Evolusi dan Relevansi Pemikiran Marx untuk Teori Hubungan Internasional

Menurut F. Parkinson marxisme klasik, sangat dipengaruhi oleh munculnya kapitalisme, Marxisme klasik menjadi tiga asumsi dasar: (1) perluasan terjadi di bawah stimulus pasar dunia yang homogen, (2) pemerintah awalnya menyadari kepentingan kelas penguasa, dan (3) perbatasan negara tidak penting karena asumsi bahwa perdagangan kompetitif tidak hanya lintas batas tetapi juga universal.

Karena distribusi modal yang tidak merata antara inti dan pinggiran, pemikiran neo-Marxis muncul dan berkesimpulan bahwa "subsistem ekonomi", seperti Inggris dan Perancis, mendominasi "sistem ekonomi dunia", sehingga bertentangan dengan asumsi Marxis klasik; NeoMarxists percaya bahwa kapitalisme dapat menyebabkan konflik yang parah, pada tingkat internasional, dan imperialisme yang berakar pada tercukupinya permintaan domestik, sehingga modal dipaksa untuk mencari outlet di luar negeri dan, jika diperlukan, dengan menggunakan kekuatan.

Langkah berikutnya dalam evolusi gagasan Marx, menurut Parkinson, adalah teori pembangunan. Pendekatan baru ini dimungkinkan ketika negara-negara kurang berkembang banyak menjadi otonom dan sifat hubungan antara negara maju dan negara berkembang tumbuh dari situasi baru ini. Teori saat ini khawatir bahwa negara-negara kurang berkembang akan tetap miskin dan bekerja untuk menemukan cara keluar dari dilema ini, pendekatan ini berasal dari Amerika Latin. Ekonom Argentina, Raul Prebish, memperkenalkan istilah "inti" dan "pinggiran". Yang pertama negara-negara industry yang sepenuhnya berkembang yang merupakan penerima manfaat dari kondisi perdagangan, dan yang kedua berisi negara-negara terbelakang yang hanya dapat mengubah nasib mereka dengan industrialisasi.

Marxis sebagian besar setuju bahwa kapitalisme merupakan sumber perilaku internasional dan bahwa ekspansi pasukan negara inti untuk menciptakan kekuatan militer yang luar biasa, untuk menekan pemberontakan negara periferal, yang mencoba untuk membebaskan diri dari negara-negara inti dominan. Faktanya banyak aktor bukan nonnegara menunjukkan dominasi faktor ekonomi di dalam masyarakat internasional.

Menurut penulis Kenneth W. Thompson, filsafat Marx disalahkan atas kekejaman yang dilakukan oleh negara-negara yang mengklaim ideologi Marxis. Sebagai contoh, Uni Soviet membenarkan penindasan dan penganiayaan terhadap kelompok-kelompok tertentu dari penduduk melalui retorika Marxis tentang penciptaan negara komunis sejati. Namun, penting untuk membedakan antara Marxisme dan Leninisme, yang membentuk ideologi Uni Soviet, dan Marxisme, yang merupakan perspektif teoritis yang berbeda, pendekatan tertentu dalam ilmu sosial, dan kritis teori yang independen.

Kesimpulan

Bagaimanapun, Marx membawa nilai besar untuk kebebasan dan universalisme, menekankan perjuangan kelas dan dominasi faktor ekonomi dalam sistem internasional. Meskipun demikian, ia mengawabaikan atau meremehkan peran negara serta unsur politik yang penting dari hubungan internasional, seperti diplomasi, keseimbangan kekuasaan, nasionalisme dan perang. Ini memiliki. menyebabkan kritik yang mendalam dari ide-ide Marx. Namun, pemikiran Marx membentuk dasar dari teori sosial, dimana, untuk sebagian besar, teori internasional kritis dikembangkan pada 1980-an.

Kritikan Terhadap Pandangan Marxisme

Pemikiran Karl Marx banyak disebabkan oleh latar belakangnya yang ketika itu kehidupannya bisa disebut suram, Karl Marx juga banyak mengalami perpindahan dari negara satu dan negara lain dan melihat berbagai ketidakadilan terjadi pada kaum buruh atau ploretar. Saya sendiri memiliki beberapa kritikan terhadap pemikiran Karl Marx.

Pertama, Karl Marx mengabaikan unsur-unsur ideologis yang menjadi pemersatu dan pengikat masyarakat. Dalam pandangan Karl Marx unsur pengikat hanya berupa kelas-kelas sosial yang dipengaruhi oleh kepentingan kaum borjuis dan ploretar, padahal unsur ideologis juga adalah unsur yang penting dalam mempersatukan sebuah masyarakat baik itu nasional atau pun universal, unsur ideologis juga merupakan unsur yang penting dalam pergerakan revolusi, contohnya nyatanya yaitu Revolusi Islam di Iran pada tahun 1978 yang dipimpin oleh Ayatullah Khomeini.

Kedua, Karl Marx mengabaikan peran pemerintah sebagai aktor dalam hal mensejahterakan rakyat, padahal pemerintahlah yang peran dan tanggung jawabnya paling besar dalam hal mensejahterakan rakyat dan kemudian menjaga kesejahteraan tersebut. Sudah kewajiban Negara untuk memberikan kesejahteraan bagi rakyatnya, yang mana kesejahteraan ini akan menunjukkan kegagalan atau keberhasilan suatu pemerintahan.

Ketiga, Karl Marx mengabaikan unsur politik yang terdiri dari kepentingan nasional, kekuasaan, dan keseimbangan kekuatan. Faktanya kepentingan politik tidak selalu dipengaruhi oleh faktor ekonomi yang seperti dikatankan Karl Marx. Isu keamanan nasional juga sering terlepas dari faktor-faktor ekonomi tersebut. Jika politik dan ekonomi selalu dihubung-hubungkan maka akan selalu ada eksploitasi ekonomi dalam setiap kegiatan politik.

Keempat, Karl Marx gagal menjelaskan konsep nasionalisme, kedaulatan, keamanan negara, dan hukum internasional yang berberan penting dalam politik internasional, dimana hal ini juga dikritisi oleh pemikir-pemikir realis dan idealis.

Sekian analisis dan kritikan saya terhadap pemikiran Karl Marx tentang hubungan internasional, saran untuk pembaca sekalian, jadilah pembaca yang kritis yang mampu menjelaskan dan menyimpulkan setiap bacaan yang dibaca sehingga tidak terjadi kemandeggan berpikir atau bahkan kesesatan berpikir.

Belajar Bahasa Mandarin Yuk!

Rabu, 27 Maret 2013

| | | 1 komentar

Nimen Hao! Mungkin kalian pernah mendengar ucapan tadi, ucapan yang saya sebutkan tadi adalah ucapan hallo atau hi dalam bahasa mandarin, dalam tulisan saya kali ini saya akan membahas tentang asiknya belajar bahasa Mandarin, saya di sini bukan untuk mengajari atau memberi les online kepada pembaca sekalian (nanti di tulisan ini saya akan berikan link untuk les bahasa mandarin online) karena saya pun baru belajar, saya hanya akan menceritakan pengalaman belajar bahasa mandarin dan alasan mengapa kita harus mempelajarinya. Untuk itu langsung saja di baca tulisan saya berikut. Selamat membaca!

Mandarin adalah bahasa resmi PBB, itulah yang menggerakkan saya untuk belajar bahasa ini karena kebetulan saya adalah mahasiswa hubungan internasional, dan tentunya akan banyak bersinggungan dengan  bahasa asing salah satunya bahasa mandarin yang juga ada mata kuliahnya di semester ke dua di jurusan saya. Saat ini ada lima bahasa resmi yang dipakai PBB dalam sidangnya selain bahasa Inggris, diantaranya adalah bahasa Arab, bahasa Rusia, bahasa Prancis, bahasa Spanyol, dan tentu saja bahasa Mandarin.

Cina sebagai Negara adi daya, kita tahu dimasa krisis Eropa dan Amerika saat ini muncul kekuatan baru di asia yaitu Cina dan India, Cina yang memiliki penduduk terbanyak di dunia (lebih dari 1 Milyar) adalah Negara dengan ekonomi yang maju, banyak sekali perusahaan cina di berbagai negara, termasuk Indonesia dan dengan kata lain kebutuhan akan bahasa mandarin untuk dunia bisnis semakin meningkat, contohnya laoshi (guru dalam bahasa Madarin) saya di universitas dia mendapat beasiswa dan ke Taiwan dan sekarang menjadi dosen di universitas tempat saya belajar sekarang, contoh lain adalah laoshi yang mengajar ditempat les bahasa mandarin yang saya ikuti, dia masih berstatus mahasiswa namun dia sudah bisa menghasilkan uang dengan mengajar les, dan dia juga sudah mendapat tawaran untuk menjadi translator ketika dia lulus nanti (yang saya tahu gaji translator minimal 10 jt).

Cina memiliki kebudayaan yang tinggi, mungkin banyak orang sudah tahu bahwa peradaban Cina merupakan salah satu peradaban tertua di dunia, negara ini punya sejarah yang panjang dan mengesankan. Bahasa Mandarin adalah bahasa terumit yang masih tersisa di dunia (setelah bahasa Babilonia punah), ini ditunjukkan dengan penggunaan nada baca yang jika beda nada baca maka artinya pun akan berbeda, juga tulisan Cina yang tidak bisa dieja atau dengan kata lain kita harus menghafal setiap tulisan dari kata-kata Cina.

Orang Cina banyak diamana-mana, diaspora Cina termasuk diaspora yang terbesar di dunia, banyak sekali keturunan orang Cina di berbagai penjuru dunia, contohnya kita bisa lihat di Indonesia etnis Cina adalah etnis ketiga terbesar setelah Jawa dan Sunda. Dengan kata lain kita bisa melatih bahasa Mandarin dimanapun kita berada.

Banyak film dan lagu Mandarin, kita pasti mengenal Jackie Chan atau Jet Li dalam film-film yang sering kita lihat ditelevisi, mereka adalah artis-artis Mandarin yang sudah mendunia, film-film mereka sudah ditayangkan di berbagai Negara, juga lagu-lagu pop mandarin yang terkenal sebagai lagu terbagus di Asia, meskipun di Indonesia tidak terlalu terkenal jika dibandingkan lagu Korea atau pun Jepang.

Mungkin sekian dari saya, sebetulnya masih banyak alasan yang bisa meyakinkan kita untuk belajar bahasa mandarin, meskipun sulit namun dengan niat yang kuat maka semua itu akan menjadi mudah.

Seperti yang saya janjikan di awal postingan saya akan memberikan link yang menyediakan les bahasa Mandarin online ini dia linknya: http://www.chineseclass101.com/ link ini gratis dan cukup membantu dengan audio dan video mulai dari level absolute bigginer sampai dengan advance. Selamat belajar bahasa Mandarin! Zai jian!